Seorang gadis kecil bertanya kepada ayahnya,
''Abi, ceritakan pada ku tentang akhwat sejati!''
Sang ayah pun menoleh kemudian tersenyum, kemudian berkata:
"Anakku... seorang akhwat sejati bukanlah di lihat dari kecantikkan paras wajahnya,
tetapi di lihat dari kecantikan hati yg ada di baliknya..
Akhwat sejati....
bukanlah di lihat dari bentuk tubuhnya,tetapi di lihat dari sejauh mana ia menutupi bentuk tubuhnya.
Akhwat sejati.....
bukan di lihat dari begitu banyaknya kebaikkan yg ia berikan, tetapi dari keikhlasan ia memberikan kebaikkan itu.
Akhwat sejati.....
bukan di lihat dari seberapa indah lantunan suaranya, tetapi di lihat dari apa yg sering mulutnya bicarakan.
Akhwat sejati.....
bukan di lihat dari keahliannya berbahasa, tetapi di lihat dari bagaimana caranya berbicara"
Sang ayah diam sejenak sembari melihat ke arah putrinya.
''Lantas apalagi abi???'' sahut putrinya.
"Ketahuilah putri ku.....
Akhwat sejati.....
bukanlah di lihat dari keberaniannya dlm berpakaian, tetapi di lihat sejauh mana ia berani mempertahankan kehormatannya.
Akhawat sejati....
bukanlah di lihat dari kekhawatiran di goda orang di jalan, tetapi di lihat dari kekhawatiran dirinyalah yg mengundang orang jadi tergoda.
Akhwat sejati.....
bukan di lihat dari seberapa banyak dan besarnya ujian yg ia jalani, tetapi di lihat dari sejauh mana ia menghadapi ujian itu dgn penuh rasa syukur.
Dan ingatlah.....
akhwat sejati bukan di lihat dari sifat supelnya dalam bergaul, tetapi di lihat sejauh mana ia menjaga kehormatan dirinya dalam bergaul.
Akhwat sejati.....
bukan di lihat dari besarnya jilbab yg dia pakai, tetapi dari besarnya semangat jihad dalam dirinya.
Akhwat sejati.....
bukan hanya di lihat dari tertutup rapat tubuhnya, tetapi ketulusan hatinya menutupi aib saudaranya.
Akhwat sejati......
bukan di lihat dari lembut suaranya, tetapi kelembutan hatinya yg mudah menangis melihat kezholiman.
Akhwat sejati.....
bukan hanya di lihat dari manis senyumnya, tetapi manis hati yg peduli pada mereka yg membutuhkan.
Akhwat sejati.....
bukan di lihat dari tunduk pandangannya, tetapi juga semangat menundukkan musuh-musuh Allah.
Setelah itu sang anak kembali bertanya, ''siapakah yg dapat menjadi kriteria seprrti itu, abi???''
sang ayah memberikan sebuah buku dan berkata,''pelajarilah mereka!''
sang anak pun mengambil buku itu dan terlihat sebuah tulisan'' ISTRI RASULULLAH''
By. Cacatan FB akhwat,,
skip to main |
skip to sidebar
Aku patah hati di cinta pertamaku Kubawa hatiku yang patah ini ke dalam duniaku yang ceria, yang belum pernah tersentuh rasa cinta antara dua insan.Duniaku yang cerah tiba2 dirundung awan hitam kelam. Malam ini aku menangis pedih, merasakan patah hati dan sedih yang menusuk. Isak tangisku seperti alunan lagu kematian, perih rasanya. Baru pertamakali aku merasakan patah hati, perasaan hampa dan sedih menggelayut dalam otak.Aku menyeka air mataku.Namun dengan begitu cepat pipi ini basah lagi, air mataku mengalir tak henti. Aku tak bisa mengendalikan tangisku. Dada ini rasanya dipenuhi kesedihan yang mendalam. Nafasku sesak.Aku hanya bisa menahan isak tangis di kamar yg kukunci rapat, kututupi kepalaku dengan bantal agar ibu tak mendengar tangisanku. Aku memang selalu diam dalam tiap rasa. Karena aku selalu kukuh, bahwa aku ingin cinta yg halal. Tak perlulah aku mengumbar rasa ini kepada orang yg tak berhak merasakannya, karena aku akan menjaganya untuk seorang yg elah ALLAH takdirkan untukku. Yang berani meminangku, dan bekata kepada ayah dan ibu, tentang keseriusannya, dan pastilah dalam waktu yang tepat.Saat hati dan jiwaku siap untuk menerima semuanya itu.Namun aku hanya wanita biasa yg punya perasaan. Walau bagaimanapun aku mengelak bahwa aku telah jatuh hati, toh hati dan otakku tak bisa berohong. Saat kuterima sebua kotak kado berwarna coklat berpitakan kuning gading darinya, dia dengan berani datang ke rumah, dan meminta izin kepada ibu untuk bertemu denganku, lalu kami duduk di kursi depan serambi rumah, ibu seakan mengawasi kami dari jauh seperti sore biasa ia merawat tanamannya.Dia menyatakan bahwa ia jatuh hati kepadaku.Seperti ada petir menyambar, kepalaku tiba2 pening mendengar pernyataannya. Sungguh saat itu aku tak bisa berkata apapun. Tapi dengan tegas aku menjawab. Aku menolaknya.Ia tersenyum hambar, menerima penolakanku dengan wajah tenang. Ia berkata ia mengetahui jika aku pasti akan menolaknya. Aku gadis belia yang baru beberapa hari merasakan duduk di bangku kuliah semester satu di kampus biru kota pelajar ini, aku menjadi harapan dan tumpuan keluarga saat kuliah di universitas kebanggaan Yogya, aku yang diharapkan bisa memberi contoh kepada adik2ku menjadi pribadi yang dapat membahagiakan kedua orang tua dengan prestasi, aku yang merasa masih sedikit ilmu…, sepertinya tidak merasa telah siap dan pantas untuk menerima cinta dari seseorang. Walaupun ia telah berkata bahwa ia berani memberitahu keseriusan dan kegigihannya terhadap ayah dan ibuku.Aku tetap menolaknya.Dalam benakku sungguh ia tak mengerti waktu yang tepat saat menyatakan cinta. Dengan mata yang berkaca-kaca. Aku mengembalikan kotak kado berwarna cokelat berpitakan kuning gading itu. Aku berkata kepadanya dengan suara yang parau.“sepertinya aku tak berhak menerimanya maaf…, aku pikir jika aku menerimanya akan ada hati yang berharap dan saat ini aku tak berhak untuk memberi harapan kepada siapapun, berikanlah ini kepada seseorang yang telah halal bagimu kelak, tanpa aku jelaskan pasti kau sudah memahami apa yang ku maksud, jika engkau memang masih mengharapkan aku maka tunggulah saat yang tepat untuk berkata kepada ayah dan ibu tentang keseriusanmu, saat di mana aku telah siap hati, jiwa dan raga, namun jikalau tidak, masih ada aisyah-aisyah yang lain yang telah siap untuk menerima cinta darimu itu.”Aku melihat sekilas wajah kecewa itu, hatiku saat itu sungguh pilu. Sesak dan begitu berat. Tapi inilah jalan yg terbaik, aku tak mau memberi harapan. Ia menghela nafas panjang. Ia membuka kotak kado itu, kulihat kain berwarna hijau. Ah…jilbab.Lalu ia mengambil sebuah buku tebal dan sepucuk surat, ia menyodorkan kearahku. Dengan nada memohon ia berkata agar aku menerimanya. Lalu ia berkata insyaALLAH perasaannya tidak akan berubah sampai aku menerimanya, lalu ia bergegas pergi dan menghampiri ibuku untuk pamit pulang.Aku memandang buku tebal dan sepucuk surat dengan pilu. Hati ini berkecamuk tak menentu. Kasih, mengapa engkau begitu cepat datang kepadaku? Aku yang hanya selalu diam dalam debarku padamu tak menyangka engkau juga menyimpan rasa kepadaku. Namun kau tak sabar menunggu waktu yang tepat untuk menyatakan rasamu.Sampai mala mini, tangisku tiada henti, memandangi buku tebal dan sepucuk surat itu, hingga membasahi jilbab yang kukenakan.Ya ALLAH aku patah hati. Perih, perdih, menusuk relung2 hatiku. Rasanya sesak tiada henti telah menolak orang yang selama ini mewarnai hatiku. Dan tak ada seorangpun yang mengetahui rasa ini kecuali ALLAH dan ibu. Namun dengan izzah yang kumiliki, aku yakin keputusanku tepat. Walau ia telah menyatakan rasanya lewat tulisan yang tertulis di lembar2 buku tebalnya dan sepucuk surat. Aku tak merasa bahwa aku harus membalas rasaku sekarang, dengan cara yang semu. Aku yakin aku sudah tepat mengambil keputusan, walau tangisanku layaknya seperti lagu kematian.Yakinku, tak ada yang salah di sini.Karena aku mencintainya, aku tak ingin memberinya harapan semu. Karena aku mencintainya, aku siap merasakan patah hati di cinta pertamaku. Hikssss….. aku patah hati ketika aku mencintainya.
Aku patah hati di cinta pertamaku Kubawa hatiku yang patah ini ke dalam duniaku yang ceria, yang belum pernah tersentuh rasa cinta antara dua insan.Duniaku yang cerah tiba2 dirundung awan hitam kelam. Malam ini aku menangis pedih, merasakan patah hati dan sedih yang menusuk. Isak tangisku seperti alunan lagu kematian, perih rasanya. Baru pertamakali aku merasakan patah hati, perasaan hampa dan sedih menggelayut dalam otak.Aku menyeka air mataku.Namun dengan begitu cepat pipi ini basah lagi, air mataku mengalir tak henti. Aku tak bisa mengendalikan tangisku. Dada ini rasanya dipenuhi kesedihan yang mendalam. Nafasku sesak.Aku hanya bisa menahan isak tangis di kamar yg kukunci rapat, kututupi kepalaku dengan bantal agar ibu tak mendengar tangisanku. Aku memang selalu diam dalam tiap rasa. Karena aku selalu kukuh, bahwa aku ingin cinta yg halal. Tak perlulah aku mengumbar rasa ini kepada orang yg tak berhak merasakannya, karena aku akan menjaganya untuk seorang yg elah ALLAH takdirkan untukku. Yang berani meminangku, dan bekata kepada ayah dan ibu, tentang keseriusannya, dan pastilah dalam waktu yang tepat.Saat hati dan jiwaku siap untuk menerima semuanya itu.Namun aku hanya wanita biasa yg punya perasaan. Walau bagaimanapun aku mengelak bahwa aku telah jatuh hati, toh hati dan otakku tak bisa berohong. Saat kuterima sebua kotak kado berwarna coklat berpitakan kuning gading darinya, dia dengan berani datang ke rumah, dan meminta izin kepada ibu untuk bertemu denganku, lalu kami duduk di kursi depan serambi rumah, ibu seakan mengawasi kami dari jauh seperti sore biasa ia merawat tanamannya.Dia menyatakan bahwa ia jatuh hati kepadaku.Seperti ada petir menyambar, kepalaku tiba2 pening mendengar pernyataannya. Sungguh saat itu aku tak bisa berkata apapun. Tapi dengan tegas aku menjawab. Aku menolaknya.Ia tersenyum hambar, menerima penolakanku dengan wajah tenang. Ia berkata ia mengetahui jika aku pasti akan menolaknya. Aku gadis belia yang baru beberapa hari merasakan duduk di bangku kuliah semester satu di kampus biru kota pelajar ini, aku menjadi harapan dan tumpuan keluarga saat kuliah di universitas kebanggaan Yogya, aku yang diharapkan bisa memberi contoh kepada adik2ku menjadi pribadi yang dapat membahagiakan kedua orang tua dengan prestasi, aku yang merasa masih sedikit ilmu…, sepertinya tidak merasa telah siap dan pantas untuk menerima cinta dari seseorang. Walaupun ia telah berkata bahwa ia berani memberitahu keseriusan dan kegigihannya terhadap ayah dan ibuku.Aku tetap menolaknya.Dalam benakku sungguh ia tak mengerti waktu yang tepat saat menyatakan cinta. Dengan mata yang berkaca-kaca. Aku mengembalikan kotak kado berwarna cokelat berpitakan kuning gading itu. Aku berkata kepadanya dengan suara yang parau.“sepertinya aku tak berhak menerimanya maaf…, aku pikir jika aku menerimanya akan ada hati yang berharap dan saat ini aku tak berhak untuk memberi harapan kepada siapapun, berikanlah ini kepada seseorang yang telah halal bagimu kelak, tanpa aku jelaskan pasti kau sudah memahami apa yang ku maksud, jika engkau memang masih mengharapkan aku maka tunggulah saat yang tepat untuk berkata kepada ayah dan ibu tentang keseriusanmu, saat di mana aku telah siap hati, jiwa dan raga, namun jikalau tidak, masih ada aisyah-aisyah yang lain yang telah siap untuk menerima cinta darimu itu.”Aku melihat sekilas wajah kecewa itu, hatiku saat itu sungguh pilu. Sesak dan begitu berat. Tapi inilah jalan yg terbaik, aku tak mau memberi harapan. Ia menghela nafas panjang. Ia membuka kotak kado itu, kulihat kain berwarna hijau. Ah…jilbab.Lalu ia mengambil sebuah buku tebal dan sepucuk surat, ia menyodorkan kearahku. Dengan nada memohon ia berkata agar aku menerimanya. Lalu ia berkata insyaALLAH perasaannya tidak akan berubah sampai aku menerimanya, lalu ia bergegas pergi dan menghampiri ibuku untuk pamit pulang.Aku memandang buku tebal dan sepucuk surat dengan pilu. Hati ini berkecamuk tak menentu. Kasih, mengapa engkau begitu cepat datang kepadaku? Aku yang hanya selalu diam dalam debarku padamu tak menyangka engkau juga menyimpan rasa kepadaku. Namun kau tak sabar menunggu waktu yang tepat untuk menyatakan rasamu.Sampai mala mini, tangisku tiada henti, memandangi buku tebal dan sepucuk surat itu, hingga membasahi jilbab yang kukenakan.Ya ALLAH aku patah hati. Perih, perdih, menusuk relung2 hatiku. Rasanya sesak tiada henti telah menolak orang yang selama ini mewarnai hatiku. Dan tak ada seorangpun yang mengetahui rasa ini kecuali ALLAH dan ibu. Namun dengan izzah yang kumiliki, aku yakin keputusanku tepat. Walau ia telah menyatakan rasanya lewat tulisan yang tertulis di lembar2 buku tebalnya dan sepucuk surat. Aku tak merasa bahwa aku harus membalas rasaku sekarang, dengan cara yang semu. Aku yakin aku sudah tepat mengambil keputusan, walau tangisanku layaknya seperti lagu kematian.Yakinku, tak ada yang salah di sini.Karena aku mencintainya, aku tak ingin memberinya harapan semu. Karena aku mencintainya, aku siap merasakan patah hati di cinta pertamaku. Hikssss….. aku patah hati ketika aku mencintainya.
Aneuk Nanggroe di Ranah Minang
Jumat, 18 Februari 2011
Sabtu, 15 Januari 2011
Tips mudah dan khusyuk mengerjakan shalat wajib dan sunnah.
oleh Syarifah Uswatun Hasanah pada 04 Desember 2009 jam 0:20
1. Ingatlah selalu setiap kali mengerjakan shalat,bisa jadi inilah shalat terakhir kita.
2. Pahami serta renungkan setiap makna bacaan dan manfaat tiap gerakan shalat.
3. Hindari setiap gangguang yang menjauhkan diri dari tegaknya shalat.ex:
-jangan shalat didepan cermin, hiasan warna- warni,ataupun tulisan yang merusak konsentrasi.
- jangan shalat didekat hidangan yang tersedia.
- jangan shalat dalam rasa kantuk yang berat.
- jangan shalat seraya menahan hajat untuk buang air besar maupun kecil.
4. Perbanyak zikir dan
istighfar. Dosa sering menjadi penghalang untuk beribadah secara maksimal.
5. Lakukan shalat
sunnah sebelum shalat wajib,insya Allah akan menguatkan kecenderungan hati dalam mengerjakan
shalat wajib.
6. Ingatlah bahwa
shalat kita penuh kekurangan yang harus disempurnakan dengan memperbanyak shalat sunnah.
7. Baca zikir dan wirid
2. Pahami serta renungkan setiap makna bacaan dan manfaat tiap gerakan shalat.
3. Hindari setiap gangguang yang menjauhkan diri dari tegaknya shalat.ex:
-jangan shalat didepan cermin, hiasan warna- warni,ataupun tulisan yang merusak konsentrasi.
- jangan shalat didekat hidangan yang tersedia.
- jangan shalat dalam rasa kantuk yang berat.
- jangan shalat seraya menahan hajat untuk buang air besar maupun kecil.
4. Perbanyak zikir dan
istighfar. Dosa sering menjadi penghalang untuk beribadah secara maksimal.
5. Lakukan shalat
sunnah sebelum shalat wajib,insya Allah akan menguatkan kecenderungan hati dalam mengerjakan
shalat wajib.
6. Ingatlah bahwa
shalat kita penuh kekurangan yang harus disempurnakan dengan memperbanyak shalat sunnah.
7. Baca zikir dan wirid
sesudah shalat, Insya Allah makin membuat hati tunduk dan dimudahkan dalam mengerjakan shalat berikutnya.
SELAMAT MENIKMATI,
SEMOGA KITA SENANTIASA KHUSYUK DALAM MELAKSANAKAN IBADAH WAJIB DAN SUNNAH.
AMIN...
SEMOGA KITA SENANTIASA KHUSYUK DALAM MELAKSANAKAN IBADAH WAJIB DAN SUNNAH.
AMIN...
Sabtu, 27 November 2010
Bapak,,Kami ingin Rumah Baru,,!!
Bapak…
Kabarnya rumah kita sudah selesai ya pak???
Kapan kita pindah pak???
Kami anakmu sangat ingin rumah baru,,,
Bapak,,,
Kamrin kami melihat ada gambar rumah baru kita,,
Tertempel mewah di madding rumah kita yang sekarang..
Waktu itu kami anak2 mu berbondong-bondong ingin melihatnya,,,
Dan ada yang sampai terdorong,,,
Begitu inginnya kami melihat rumah baru,,,
Bapak,,,
Digambar itu kami melihat gedungnya yang megah,,,
Tangga yang berkelok,,,
Rungannya yang banyak,,,
Tamannya yang hijau,,
Dan pastinya sejuk,,,
Bapak,,,
Kami ingin pindah kerumah baru,,,
Sekarang anak bapak sudah berjumlah ratusan,,,
Kamar kita Cuma 3 bapak,,,
Sesak dan panas,,,
Bapak,,,
Bukan kami tidak bersyukur,,,
Bukan pula kami tidak berterimakasih kepada bapak,,
Tapi,,
Kami ingin rumah baru,,
Taman hijau yang luas,,,
ruangan yang banyak,,
sejuk,,
dan menamabah ketenangan dihati kami,,,
Bapak,,
kami ingin rumah baru...
Rumah yang impian kami,,
tepat, dimana kami kelak bisa mengembangkan bakat kami,,,
tempat, dimana kami bisa leluasa dalam permainan kami,,,,
tempat, dimana kami tak harus menunggu panjang penjaga rumah untuk membuka pintu gerbang rumah kami,,,
tempat, kami bisa beribadah kapada Tuhan kami,,
tempat yang bisa kami banggakan,,,
tempat diman kami merasa rumah itu adalah milik kami,,,
Bapak…
Kami ingin rumah baru,,,
Kapan kita bisa pindah pak???
kapan kami bisa merasakan nikmat rumah nyaman???
DESEMBER????
Atau masih dalam RENCANA?????
“kami yang menginginkan sedikit ketentraman dalam belajar
dan
kami yang menginginkan Bakat kami dikembangkan”
Rumah Kami, Awal Juli 2010
Senin, 22 November 2010
Sabtu, 20 November 2010
ketika rasa jemu memenuhi pikiranku
hmmm,,,
tak bisa kuberfikir kali ini,,,
kepalaku mulai penuh dan membengkak,,
oh god,,,bebaskan aku dari belenggu ini,,,
aku mulai lelah dengan semua kekacauan ini,,,
aku mulai jemu dengan beragam teori yang sama sekali belum bisa kupahami,,,
ah,,,aku lelah,,
sangat lelah,,,
wahai dirimu yang ada disana...
izinkan sejenak hatiku memeluk pikiranku,,,
agar pikiran dan hatiku kemabli menyatu,,,
tak bisa kuberfikir kali ini,,,
kepalaku mulai penuh dan membengkak,,
oh god,,,bebaskan aku dari belenggu ini,,,
aku mulai lelah dengan semua kekacauan ini,,,
aku mulai jemu dengan beragam teori yang sama sekali belum bisa kupahami,,,
ah,,,aku lelah,,
sangat lelah,,,
wahai dirimu yang ada disana...
izinkan sejenak hatiku memeluk pikiranku,,,
agar pikiran dan hatiku kemabli menyatu,,,
Jumat, 19 November 2010
Dialog Aq dan hatiqu,,
Wahai hatiku,,
Sudah lama aku tak menyapamu,,,
Apa kabarmu sekarang,,???
Apakah dirimu baik2 saja,,
Atau sedang dalam masalah luar biasa,,
Wahai hatiku,,,
Kali ini kita bertemu,,
Ingin kusampaikan kepada mu,,
Bahwa aku sedang merindukan Rabb ku,,
Apakah dirimu juga merasakan itu,,,
Kuharap begitu,,
Karena aku takut,,
Meskipun kita satu,,
Tak jarang kita tak menyatu,,,
Wahai hatiku,,
Aku juga ingin menyampaikan berita gembira kepada mu,,,
Bahwa aku ingin mengajakmu,,
Kesebuah negeri nun jauh disana,,
Negeri yang tak ada hiruk pikuk kedengkian,,
Sebuah negeri yang mengantarkanmu kembali damai,,
Setelah sekian lama dirimu ku biarkan lepas begitu saja,,
Wahai hatiku,,
Kumencintaimu,,,
Karena dirimulah segumpal daging istimewa yang diciptakan Tuhan ku…
padang, 26 September 2010
Sudah lama aku tak menyapamu,,,
Apa kabarmu sekarang,,???
Apakah dirimu baik2 saja,,
Atau sedang dalam masalah luar biasa,,
Wahai hatiku,,,
Kali ini kita bertemu,,
Ingin kusampaikan kepada mu,,
Bahwa aku sedang merindukan Rabb ku,,
Apakah dirimu juga merasakan itu,,,
Kuharap begitu,,
Karena aku takut,,
Meskipun kita satu,,
Tak jarang kita tak menyatu,,,
Wahai hatiku,,
Aku juga ingin menyampaikan berita gembira kepada mu,,,
Bahwa aku ingin mengajakmu,,
Kesebuah negeri nun jauh disana,,
Negeri yang tak ada hiruk pikuk kedengkian,,
Sebuah negeri yang mengantarkanmu kembali damai,,
Setelah sekian lama dirimu ku biarkan lepas begitu saja,,
Wahai hatiku,,
Kumencintaimu,,,
Karena dirimulah segumpal daging istimewa yang diciptakan Tuhan ku…
padang, 26 September 2010
kisah nyata seorang akhwat tangguh: mampukah kita???
Aku patah hati di cinta pertamaku Kubawa hatiku yang patah ini ke dalam duniaku yang ceria, yang belum pernah tersentuh rasa cinta antara dua insan.Duniaku yang cerah tiba2 dirundung awan hitam kelam. Malam ini aku menangis pedih, merasakan patah hati dan sedih yang menusuk. Isak tangisku seperti alunan lagu kematian, perih rasanya. Baru pertamakali aku merasakan patah hati, perasaan hampa dan sedih menggelayut dalam otak.Aku menyeka air mataku.Namun dengan begitu cepat pipi ini basah lagi, air mataku mengalir tak henti. Aku tak bisa mengendalikan tangisku. Dada ini rasanya dipenuhi kesedihan yang mendalam. Nafasku sesak.Aku hanya bisa menahan isak tangis di kamar yg kukunci rapat, kututupi kepalaku dengan bantal agar ibu tak mendengar tangisanku. Aku memang selalu diam dalam tiap rasa. Karena aku selalu kukuh, bahwa aku ingin cinta yg halal. Tak perlulah aku mengumbar rasa ini kepada orang yg tak berhak merasakannya, karena aku akan menjaganya untuk seorang yg elah ALLAH takdirkan untukku. Yang berani meminangku, dan bekata kepada ayah dan ibu, tentang keseriusannya, dan pastilah dalam waktu yang tepat.Saat hati dan jiwaku siap untuk menerima semuanya itu.Namun aku hanya wanita biasa yg punya perasaan. Walau bagaimanapun aku mengelak bahwa aku telah jatuh hati, toh hati dan otakku tak bisa berohong. Saat kuterima sebua kotak kado berwarna coklat berpitakan kuning gading darinya, dia dengan berani datang ke rumah, dan meminta izin kepada ibu untuk bertemu denganku, lalu kami duduk di kursi depan serambi rumah, ibu seakan mengawasi kami dari jauh seperti sore biasa ia merawat tanamannya.Dia menyatakan bahwa ia jatuh hati kepadaku.Seperti ada petir menyambar, kepalaku tiba2 pening mendengar pernyataannya. Sungguh saat itu aku tak bisa berkata apapun. Tapi dengan tegas aku menjawab. Aku menolaknya.Ia tersenyum hambar, menerima penolakanku dengan wajah tenang. Ia berkata ia mengetahui jika aku pasti akan menolaknya. Aku gadis belia yang baru beberapa hari merasakan duduk di bangku kuliah semester satu di kampus biru kota pelajar ini, aku menjadi harapan dan tumpuan keluarga saat kuliah di universitas kebanggaan Yogya, aku yang diharapkan bisa memberi contoh kepada adik2ku menjadi pribadi yang dapat membahagiakan kedua orang tua dengan prestasi, aku yang merasa masih sedikit ilmu…, sepertinya tidak merasa telah siap dan pantas untuk menerima cinta dari seseorang. Walaupun ia telah berkata bahwa ia berani memberitahu keseriusan dan kegigihannya terhadap ayah dan ibuku.Aku tetap menolaknya.Dalam benakku sungguh ia tak mengerti waktu yang tepat saat menyatakan cinta. Dengan mata yang berkaca-kaca. Aku mengembalikan kotak kado berwarna cokelat berpitakan kuning gading itu. Aku berkata kepadanya dengan suara yang parau.“sepertinya aku tak berhak menerimanya maaf…, aku pikir jika aku menerimanya akan ada hati yang berharap dan saat ini aku tak berhak untuk memberi harapan kepada siapapun, berikanlah ini kepada seseorang yang telah halal bagimu kelak, tanpa aku jelaskan pasti kau sudah memahami apa yang ku maksud, jika engkau memang masih mengharapkan aku maka tunggulah saat yang tepat untuk berkata kepada ayah dan ibu tentang keseriusanmu, saat di mana aku telah siap hati, jiwa dan raga, namun jikalau tidak, masih ada aisyah-aisyah yang lain yang telah siap untuk menerima cinta darimu itu.”Aku melihat sekilas wajah kecewa itu, hatiku saat itu sungguh pilu. Sesak dan begitu berat. Tapi inilah jalan yg terbaik, aku tak mau memberi harapan. Ia menghela nafas panjang. Ia membuka kotak kado itu, kulihat kain berwarna hijau. Ah…jilbab.Lalu ia mengambil sebuah buku tebal dan sepucuk surat, ia menyodorkan kearahku. Dengan nada memohon ia berkata agar aku menerimanya. Lalu ia berkata insyaALLAH perasaannya tidak akan berubah sampai aku menerimanya, lalu ia bergegas pergi dan menghampiri ibuku untuk pamit pulang.Aku memandang buku tebal dan sepucuk surat dengan pilu. Hati ini berkecamuk tak menentu. Kasih, mengapa engkau begitu cepat datang kepadaku? Aku yang hanya selalu diam dalam debarku padamu tak menyangka engkau juga menyimpan rasa kepadaku. Namun kau tak sabar menunggu waktu yang tepat untuk menyatakan rasamu.Sampai mala mini, tangisku tiada henti, memandangi buku tebal dan sepucuk surat itu, hingga membasahi jilbab yang kukenakan.Ya ALLAH aku patah hati. Perih, perdih, menusuk relung2 hatiku. Rasanya sesak tiada henti telah menolak orang yang selama ini mewarnai hatiku. Dan tak ada seorangpun yang mengetahui rasa ini kecuali ALLAH dan ibu. Namun dengan izzah yang kumiliki, aku yakin keputusanku tepat. Walau ia telah menyatakan rasanya lewat tulisan yang tertulis di lembar2 buku tebalnya dan sepucuk surat. Aku tak merasa bahwa aku harus membalas rasaku sekarang, dengan cara yang semu. Aku yakin aku sudah tepat mengambil keputusan, walau tangisanku layaknya seperti lagu kematian.Yakinku, tak ada yang salah di sini.Karena aku mencintainya, aku tak ingin memberinya harapan semu. Karena aku mencintainya, aku siap merasakan patah hati di cinta pertamaku. Hikssss….. aku patah hati ketika aku mencintainya.
Afanina Syahida
15 maret 2010
Labels
Diberdayakan oleh Blogger.
You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "
Labels
- cerpen (1)
- for akhwat (1)
- my mind (3)
- My Religion (1)
- surat (1)
- tulisan (1)
Akhwat Sejati
Seorang gadis kecil bertanya kepada ayahnya,
''Abi, ceritakan pada ku tentang akhwat sejati!''
Sang ayah pun menoleh kemudian tersenyum, kemudian berkata:
"Anakku... seorang akhwat sejati bukanlah di lihat dari kecantikkan paras wajahnya,
tetapi di lihat dari kecantikan hati yg ada di baliknya..
Akhwat sejati....
bukanlah di lihat dari bentuk tubuhnya,tetapi di lihat dari sejauh mana ia menutupi bentuk tubuhnya.
Akhwat sejati.....
bukan di lihat dari begitu banyaknya kebaikkan yg ia berikan, tetapi dari keikhlasan ia memberikan kebaikkan itu.
Akhwat sejati.....
bukan di lihat dari seberapa indah lantunan suaranya, tetapi di lihat dari apa yg sering mulutnya bicarakan.
Akhwat sejati.....
bukan di lihat dari keahliannya berbahasa, tetapi di lihat dari bagaimana caranya berbicara"
Sang ayah diam sejenak sembari melihat ke arah putrinya.
''Lantas apalagi abi???'' sahut putrinya.
"Ketahuilah putri ku.....
Akhwat sejati.....
bukanlah di lihat dari keberaniannya dlm berpakaian, tetapi di lihat sejauh mana ia berani mempertahankan kehormatannya.
Akhawat sejati....
bukanlah di lihat dari kekhawatiran di goda orang di jalan, tetapi di lihat dari kekhawatiran dirinyalah yg mengundang orang jadi tergoda.
Akhwat sejati.....
bukan di lihat dari seberapa banyak dan besarnya ujian yg ia jalani, tetapi di lihat dari sejauh mana ia menghadapi ujian itu dgn penuh rasa syukur.
Dan ingatlah.....
akhwat sejati bukan di lihat dari sifat supelnya dalam bergaul, tetapi di lihat sejauh mana ia menjaga kehormatan dirinya dalam bergaul.
Akhwat sejati.....
bukan di lihat dari besarnya jilbab yg dia pakai, tetapi dari besarnya semangat jihad dalam dirinya.
Akhwat sejati.....
bukan hanya di lihat dari tertutup rapat tubuhnya, tetapi ketulusan hatinya menutupi aib saudaranya.
Akhwat sejati......
bukan di lihat dari lembut suaranya, tetapi kelembutan hatinya yg mudah menangis melihat kezholiman.
Akhwat sejati.....
bukan hanya di lihat dari manis senyumnya, tetapi manis hati yg peduli pada mereka yg membutuhkan.
Akhwat sejati.....
bukan di lihat dari tunduk pandangannya, tetapi juga semangat menundukkan musuh-musuh Allah.
Setelah itu sang anak kembali bertanya, ''siapakah yg dapat menjadi kriteria seprrti itu, abi???''
sang ayah memberikan sebuah buku dan berkata,''pelajarilah mereka!''
sang anak pun mengambil buku itu dan terlihat sebuah tulisan'' ISTRI RASULULLAH''
By. Cacatan FB akhwat,,
''Abi, ceritakan pada ku tentang akhwat sejati!''
Sang ayah pun menoleh kemudian tersenyum, kemudian berkata:
"Anakku... seorang akhwat sejati bukanlah di lihat dari kecantikkan paras wajahnya,
tetapi di lihat dari kecantikan hati yg ada di baliknya..
Akhwat sejati....
bukanlah di lihat dari bentuk tubuhnya,tetapi di lihat dari sejauh mana ia menutupi bentuk tubuhnya.
Akhwat sejati.....
bukan di lihat dari begitu banyaknya kebaikkan yg ia berikan, tetapi dari keikhlasan ia memberikan kebaikkan itu.
Akhwat sejati.....
bukan di lihat dari seberapa indah lantunan suaranya, tetapi di lihat dari apa yg sering mulutnya bicarakan.
Akhwat sejati.....
bukan di lihat dari keahliannya berbahasa, tetapi di lihat dari bagaimana caranya berbicara"
Sang ayah diam sejenak sembari melihat ke arah putrinya.
''Lantas apalagi abi???'' sahut putrinya.
"Ketahuilah putri ku.....
Akhwat sejati.....
bukanlah di lihat dari keberaniannya dlm berpakaian, tetapi di lihat sejauh mana ia berani mempertahankan kehormatannya.
Akhawat sejati....
bukanlah di lihat dari kekhawatiran di goda orang di jalan, tetapi di lihat dari kekhawatiran dirinyalah yg mengundang orang jadi tergoda.
Akhwat sejati.....
bukan di lihat dari seberapa banyak dan besarnya ujian yg ia jalani, tetapi di lihat dari sejauh mana ia menghadapi ujian itu dgn penuh rasa syukur.
Dan ingatlah.....
akhwat sejati bukan di lihat dari sifat supelnya dalam bergaul, tetapi di lihat sejauh mana ia menjaga kehormatan dirinya dalam bergaul.
Akhwat sejati.....
bukan di lihat dari besarnya jilbab yg dia pakai, tetapi dari besarnya semangat jihad dalam dirinya.
Akhwat sejati.....
bukan hanya di lihat dari tertutup rapat tubuhnya, tetapi ketulusan hatinya menutupi aib saudaranya.
Akhwat sejati......
bukan di lihat dari lembut suaranya, tetapi kelembutan hatinya yg mudah menangis melihat kezholiman.
Akhwat sejati.....
bukan hanya di lihat dari manis senyumnya, tetapi manis hati yg peduli pada mereka yg membutuhkan.
Akhwat sejati.....
bukan di lihat dari tunduk pandangannya, tetapi juga semangat menundukkan musuh-musuh Allah.
Setelah itu sang anak kembali bertanya, ''siapakah yg dapat menjadi kriteria seprrti itu, abi???''
sang ayah memberikan sebuah buku dan berkata,''pelajarilah mereka!''
sang anak pun mengambil buku itu dan terlihat sebuah tulisan'' ISTRI RASULULLAH''
By. Cacatan FB akhwat,,
Tips mudah dan khusyuk mengerjakan shalat wajib dan sunnah.
oleh Syarifah Uswatun Hasanah pada 04 Desember 2009 jam 0:20
1. Ingatlah selalu setiap kali mengerjakan shalat,bisa jadi inilah shalat terakhir kita.
2. Pahami serta renungkan setiap makna bacaan dan manfaat tiap gerakan shalat.
3. Hindari setiap gangguang yang menjauhkan diri dari tegaknya shalat.ex:
-jangan shalat didepan cermin, hiasan warna- warni,ataupun tulisan yang merusak konsentrasi.
- jangan shalat didekat hidangan yang tersedia.
- jangan shalat dalam rasa kantuk yang berat.
- jangan shalat seraya menahan hajat untuk buang air besar maupun kecil.
4. Perbanyak zikir dan
istighfar. Dosa sering menjadi penghalang untuk beribadah secara maksimal.
5. Lakukan shalat
sunnah sebelum shalat wajib,insya Allah akan menguatkan kecenderungan hati dalam mengerjakan
shalat wajib.
6. Ingatlah bahwa
shalat kita penuh kekurangan yang harus disempurnakan dengan memperbanyak shalat sunnah.
7. Baca zikir dan wirid
2. Pahami serta renungkan setiap makna bacaan dan manfaat tiap gerakan shalat.
3. Hindari setiap gangguang yang menjauhkan diri dari tegaknya shalat.ex:
-jangan shalat didepan cermin, hiasan warna- warni,ataupun tulisan yang merusak konsentrasi.
- jangan shalat didekat hidangan yang tersedia.
- jangan shalat dalam rasa kantuk yang berat.
- jangan shalat seraya menahan hajat untuk buang air besar maupun kecil.
4. Perbanyak zikir dan
istighfar. Dosa sering menjadi penghalang untuk beribadah secara maksimal.
5. Lakukan shalat
sunnah sebelum shalat wajib,insya Allah akan menguatkan kecenderungan hati dalam mengerjakan
shalat wajib.
6. Ingatlah bahwa
shalat kita penuh kekurangan yang harus disempurnakan dengan memperbanyak shalat sunnah.
7. Baca zikir dan wirid
sesudah shalat, Insya Allah makin membuat hati tunduk dan dimudahkan dalam mengerjakan shalat berikutnya.
SELAMAT MENIKMATI,
SEMOGA KITA SENANTIASA KHUSYUK DALAM MELAKSANAKAN IBADAH WAJIB DAN SUNNAH.
AMIN...
SEMOGA KITA SENANTIASA KHUSYUK DALAM MELAKSANAKAN IBADAH WAJIB DAN SUNNAH.
AMIN...
Bapak,,Kami ingin Rumah Baru,,!!
Bapak…
Kabarnya rumah kita sudah selesai ya pak???
Kapan kita pindah pak???
Kami anakmu sangat ingin rumah baru,,,
Bapak,,,
Kamrin kami melihat ada gambar rumah baru kita,,
Tertempel mewah di madding rumah kita yang sekarang..
Waktu itu kami anak2 mu berbondong-bondong ingin melihatnya,,,
Dan ada yang sampai terdorong,,,
Begitu inginnya kami melihat rumah baru,,,
Bapak,,,
Digambar itu kami melihat gedungnya yang megah,,,
Tangga yang berkelok,,,
Rungannya yang banyak,,,
Tamannya yang hijau,,
Dan pastinya sejuk,,,
Bapak,,,
Kami ingin pindah kerumah baru,,,
Sekarang anak bapak sudah berjumlah ratusan,,,
Kamar kita Cuma 3 bapak,,,
Sesak dan panas,,,
Bapak,,,
Bukan kami tidak bersyukur,,,
Bukan pula kami tidak berterimakasih kepada bapak,,
Tapi,,
Kami ingin rumah baru,,
Taman hijau yang luas,,,
ruangan yang banyak,,
sejuk,,
dan menamabah ketenangan dihati kami,,,
Bapak,,
kami ingin rumah baru...
Rumah yang impian kami,,
tepat, dimana kami kelak bisa mengembangkan bakat kami,,,
tempat, dimana kami bisa leluasa dalam permainan kami,,,,
tempat, dimana kami tak harus menunggu panjang penjaga rumah untuk membuka pintu gerbang rumah kami,,,
tempat, kami bisa beribadah kapada Tuhan kami,,
tempat yang bisa kami banggakan,,,
tempat diman kami merasa rumah itu adalah milik kami,,,
Bapak…
Kami ingin rumah baru,,,
Kapan kita bisa pindah pak???
kapan kami bisa merasakan nikmat rumah nyaman???
DESEMBER????
Atau masih dalam RENCANA?????
“kami yang menginginkan sedikit ketentraman dalam belajar
dan
kami yang menginginkan Bakat kami dikembangkan”
Rumah Kami, Awal Juli 2010
ketika rasa jemu memenuhi pikiranku
hmmm,,,
tak bisa kuberfikir kali ini,,,
kepalaku mulai penuh dan membengkak,,
oh god,,,bebaskan aku dari belenggu ini,,,
aku mulai lelah dengan semua kekacauan ini,,,
aku mulai jemu dengan beragam teori yang sama sekali belum bisa kupahami,,,
ah,,,aku lelah,,
sangat lelah,,,
wahai dirimu yang ada disana...
izinkan sejenak hatiku memeluk pikiranku,,,
agar pikiran dan hatiku kemabli menyatu,,,
tak bisa kuberfikir kali ini,,,
kepalaku mulai penuh dan membengkak,,
oh god,,,bebaskan aku dari belenggu ini,,,
aku mulai lelah dengan semua kekacauan ini,,,
aku mulai jemu dengan beragam teori yang sama sekali belum bisa kupahami,,,
ah,,,aku lelah,,
sangat lelah,,,
wahai dirimu yang ada disana...
izinkan sejenak hatiku memeluk pikiranku,,,
agar pikiran dan hatiku kemabli menyatu,,,
Dialog Aq dan hatiqu,,
Wahai hatiku,,
Sudah lama aku tak menyapamu,,,
Apa kabarmu sekarang,,???
Apakah dirimu baik2 saja,,
Atau sedang dalam masalah luar biasa,,
Wahai hatiku,,,
Kali ini kita bertemu,,
Ingin kusampaikan kepada mu,,
Bahwa aku sedang merindukan Rabb ku,,
Apakah dirimu juga merasakan itu,,,
Kuharap begitu,,
Karena aku takut,,
Meskipun kita satu,,
Tak jarang kita tak menyatu,,,
Wahai hatiku,,
Aku juga ingin menyampaikan berita gembira kepada mu,,,
Bahwa aku ingin mengajakmu,,
Kesebuah negeri nun jauh disana,,
Negeri yang tak ada hiruk pikuk kedengkian,,
Sebuah negeri yang mengantarkanmu kembali damai,,
Setelah sekian lama dirimu ku biarkan lepas begitu saja,,
Wahai hatiku,,
Kumencintaimu,,,
Karena dirimulah segumpal daging istimewa yang diciptakan Tuhan ku…
padang, 26 September 2010
Sudah lama aku tak menyapamu,,,
Apa kabarmu sekarang,,???
Apakah dirimu baik2 saja,,
Atau sedang dalam masalah luar biasa,,
Wahai hatiku,,,
Kali ini kita bertemu,,
Ingin kusampaikan kepada mu,,
Bahwa aku sedang merindukan Rabb ku,,
Apakah dirimu juga merasakan itu,,,
Kuharap begitu,,
Karena aku takut,,
Meskipun kita satu,,
Tak jarang kita tak menyatu,,,
Wahai hatiku,,
Aku juga ingin menyampaikan berita gembira kepada mu,,,
Bahwa aku ingin mengajakmu,,
Kesebuah negeri nun jauh disana,,
Negeri yang tak ada hiruk pikuk kedengkian,,
Sebuah negeri yang mengantarkanmu kembali damai,,
Setelah sekian lama dirimu ku biarkan lepas begitu saja,,
Wahai hatiku,,
Kumencintaimu,,,
Karena dirimulah segumpal daging istimewa yang diciptakan Tuhan ku…
padang, 26 September 2010
kisah nyata seorang akhwat tangguh: mampukah kita???
Aku patah hati di cinta pertamaku Kubawa hatiku yang patah ini ke dalam duniaku yang ceria, yang belum pernah tersentuh rasa cinta antara dua insan.Duniaku yang cerah tiba2 dirundung awan hitam kelam. Malam ini aku menangis pedih, merasakan patah hati dan sedih yang menusuk. Isak tangisku seperti alunan lagu kematian, perih rasanya. Baru pertamakali aku merasakan patah hati, perasaan hampa dan sedih menggelayut dalam otak.Aku menyeka air mataku.Namun dengan begitu cepat pipi ini basah lagi, air mataku mengalir tak henti. Aku tak bisa mengendalikan tangisku. Dada ini rasanya dipenuhi kesedihan yang mendalam. Nafasku sesak.Aku hanya bisa menahan isak tangis di kamar yg kukunci rapat, kututupi kepalaku dengan bantal agar ibu tak mendengar tangisanku. Aku memang selalu diam dalam tiap rasa. Karena aku selalu kukuh, bahwa aku ingin cinta yg halal. Tak perlulah aku mengumbar rasa ini kepada orang yg tak berhak merasakannya, karena aku akan menjaganya untuk seorang yg elah ALLAH takdirkan untukku. Yang berani meminangku, dan bekata kepada ayah dan ibu, tentang keseriusannya, dan pastilah dalam waktu yang tepat.Saat hati dan jiwaku siap untuk menerima semuanya itu.Namun aku hanya wanita biasa yg punya perasaan. Walau bagaimanapun aku mengelak bahwa aku telah jatuh hati, toh hati dan otakku tak bisa berohong. Saat kuterima sebua kotak kado berwarna coklat berpitakan kuning gading darinya, dia dengan berani datang ke rumah, dan meminta izin kepada ibu untuk bertemu denganku, lalu kami duduk di kursi depan serambi rumah, ibu seakan mengawasi kami dari jauh seperti sore biasa ia merawat tanamannya.Dia menyatakan bahwa ia jatuh hati kepadaku.Seperti ada petir menyambar, kepalaku tiba2 pening mendengar pernyataannya. Sungguh saat itu aku tak bisa berkata apapun. Tapi dengan tegas aku menjawab. Aku menolaknya.Ia tersenyum hambar, menerima penolakanku dengan wajah tenang. Ia berkata ia mengetahui jika aku pasti akan menolaknya. Aku gadis belia yang baru beberapa hari merasakan duduk di bangku kuliah semester satu di kampus biru kota pelajar ini, aku menjadi harapan dan tumpuan keluarga saat kuliah di universitas kebanggaan Yogya, aku yang diharapkan bisa memberi contoh kepada adik2ku menjadi pribadi yang dapat membahagiakan kedua orang tua dengan prestasi, aku yang merasa masih sedikit ilmu…, sepertinya tidak merasa telah siap dan pantas untuk menerima cinta dari seseorang. Walaupun ia telah berkata bahwa ia berani memberitahu keseriusan dan kegigihannya terhadap ayah dan ibuku.Aku tetap menolaknya.Dalam benakku sungguh ia tak mengerti waktu yang tepat saat menyatakan cinta. Dengan mata yang berkaca-kaca. Aku mengembalikan kotak kado berwarna cokelat berpitakan kuning gading itu. Aku berkata kepadanya dengan suara yang parau.“sepertinya aku tak berhak menerimanya maaf…, aku pikir jika aku menerimanya akan ada hati yang berharap dan saat ini aku tak berhak untuk memberi harapan kepada siapapun, berikanlah ini kepada seseorang yang telah halal bagimu kelak, tanpa aku jelaskan pasti kau sudah memahami apa yang ku maksud, jika engkau memang masih mengharapkan aku maka tunggulah saat yang tepat untuk berkata kepada ayah dan ibu tentang keseriusanmu, saat di mana aku telah siap hati, jiwa dan raga, namun jikalau tidak, masih ada aisyah-aisyah yang lain yang telah siap untuk menerima cinta darimu itu.”Aku melihat sekilas wajah kecewa itu, hatiku saat itu sungguh pilu. Sesak dan begitu berat. Tapi inilah jalan yg terbaik, aku tak mau memberi harapan. Ia menghela nafas panjang. Ia membuka kotak kado itu, kulihat kain berwarna hijau. Ah…jilbab.Lalu ia mengambil sebuah buku tebal dan sepucuk surat, ia menyodorkan kearahku. Dengan nada memohon ia berkata agar aku menerimanya. Lalu ia berkata insyaALLAH perasaannya tidak akan berubah sampai aku menerimanya, lalu ia bergegas pergi dan menghampiri ibuku untuk pamit pulang.Aku memandang buku tebal dan sepucuk surat dengan pilu. Hati ini berkecamuk tak menentu. Kasih, mengapa engkau begitu cepat datang kepadaku? Aku yang hanya selalu diam dalam debarku padamu tak menyangka engkau juga menyimpan rasa kepadaku. Namun kau tak sabar menunggu waktu yang tepat untuk menyatakan rasamu.Sampai mala mini, tangisku tiada henti, memandangi buku tebal dan sepucuk surat itu, hingga membasahi jilbab yang kukenakan.Ya ALLAH aku patah hati. Perih, perdih, menusuk relung2 hatiku. Rasanya sesak tiada henti telah menolak orang yang selama ini mewarnai hatiku. Dan tak ada seorangpun yang mengetahui rasa ini kecuali ALLAH dan ibu. Namun dengan izzah yang kumiliki, aku yakin keputusanku tepat. Walau ia telah menyatakan rasanya lewat tulisan yang tertulis di lembar2 buku tebalnya dan sepucuk surat. Aku tak merasa bahwa aku harus membalas rasaku sekarang, dengan cara yang semu. Aku yakin aku sudah tepat mengambil keputusan, walau tangisanku layaknya seperti lagu kematian.Yakinku, tak ada yang salah di sini.Karena aku mencintainya, aku tak ingin memberinya harapan semu. Karena aku mencintainya, aku siap merasakan patah hati di cinta pertamaku. Hikssss….. aku patah hati ketika aku mencintainya.
Afanina Syahida
15 maret 2010
Langganan:
Komentar (Atom)
About Me
Followers
Labels
- cerpen (1)
- for akhwat (1)
- my mind (3)
- My Religion (1)
- surat (1)
- tulisan (1)



