Sabtu, 27 November 2010

Bapak,,Kami ingin Rumah Baru,,!!


Bapak…
Kabarnya rumah kita sudah selesai ya pak???
Kapan kita pindah pak???
Kami anakmu sangat ingin rumah baru,,,

Bapak,,,
Kamrin kami melihat ada gambar rumah baru kita,,
Tertempel mewah di madding rumah kita yang sekarang..
Waktu itu kami anak2 mu berbondong-bondong ingin melihatnya,,,
Dan ada yang sampai terdorong,,,
Begitu inginnya kami melihat rumah baru,,,

Bapak,,,
Digambar itu kami melihat gedungnya yang megah,,,
Tangga yang berkelok,,,
Rungannya yang banyak,,,
Tamannya yang hijau,,
Dan pastinya sejuk,,,

Bapak,,,
Kami ingin pindah kerumah baru,,,
Sekarang anak bapak sudah berjumlah ratusan,,,
Kamar kita Cuma 3 bapak,,,
Sesak dan panas,,,

Bapak,,,
Bukan kami tidak bersyukur,,,
Bukan pula kami tidak berterimakasih kepada bapak,,
Tapi,,
Kami ingin rumah baru,,
Taman hijau yang luas,,,
ruangan yang banyak,,
sejuk,,
dan menamabah ketenangan dihati kami,,,

Bapak,,
kami ingin rumah baru...
Rumah yang impian kami,,
tepat, dimana kami kelak bisa mengembangkan bakat kami,,,
tempat, dimana kami bisa leluasa dalam permainan kami,,,,
tempat, dimana kami tak harus menunggu panjang penjaga rumah untuk membuka pintu gerbang rumah kami,,,
tempat, kami bisa beribadah kapada Tuhan kami,,
tempat yang bisa kami banggakan,,,
tempat diman kami merasa rumah itu adalah milik kami,,,


Bapak…
Kami ingin rumah baru,,,
Kapan kita bisa pindah pak???
kapan kami bisa merasakan nikmat rumah nyaman???
DESEMBER????
Atau masih dalam RENCANA?????



“kami yang menginginkan sedikit ketentraman dalam belajar
dan
kami yang menginginkan Bakat kami dikembangkan”


Rumah Kami, Awal Juli 2010




Senin, 22 November 2010

Sabtu, 20 November 2010

ketika rasa jemu memenuhi pikiranku

hmmm,,,
tak bisa kuberfikir kali ini,,,
kepalaku mulai penuh dan membengkak,,
oh god,,,bebaskan aku dari belenggu ini,,,

aku mulai lelah dengan semua kekacauan ini,,,
aku mulai jemu dengan beragam teori yang sama sekali belum bisa kupahami,,,
ah,,,aku lelah,,
sangat lelah,,,

wahai dirimu yang ada disana...
izinkan sejenak hatiku memeluk pikiranku,,,
agar pikiran dan hatiku kemabli menyatu,,,

Jumat, 19 November 2010

Dialog Aq dan hatiqu,,

Wahai hatiku,,
Sudah lama aku tak menyapamu,,,
Apa kabarmu sekarang,,???
Apakah dirimu baik2 saja,,
Atau sedang dalam masalah luar biasa,,

Wahai hatiku,,,
Kali ini kita bertemu,,
Ingin kusampaikan kepada mu,,
Bahwa aku sedang merindukan Rabb ku,,
Apakah dirimu juga merasakan itu,,,
Kuharap begitu,,
Karena aku takut,,
Meskipun kita satu,,
Tak jarang kita tak menyatu,,,

Wahai hatiku,,
Aku juga ingin menyampaikan berita gembira kepada mu,,,
Bahwa aku ingin mengajakmu,,
Kesebuah negeri nun jauh disana,,
Negeri yang tak ada hiruk pikuk kedengkian,,
Sebuah negeri yang mengantarkanmu kembali damai,,
Setelah sekian lama dirimu ku biarkan lepas begitu saja,,

Wahai hatiku,,
Kumencintaimu,,,
Karena dirimulah segumpal daging istimewa  yang diciptakan Tuhan ku…

padang, 26 September 2010

kisah nyata seorang akhwat tangguh: mampukah kita???


Aku patah hati di cinta pertamaku Kubawa hatiku yang patah ini ke dalam duniaku yang ceria, yang belum pernah tersentuh rasa cinta antara dua insan.Duniaku yang cerah tiba2 dirundung awan hitam kelam. Malam ini aku menangis pedih, merasakan patah hati dan sedih yang menusuk. Isak tangisku seperti alunan lagu kematian, perih rasanya. Baru pertamakali aku merasakan patah hati, perasaan hampa dan sedih menggelayut dalam otak.Aku menyeka air mataku.Namun dengan begitu cepat pipi ini basah lagi, air mataku mengalir tak henti. Aku tak bisa mengendalikan tangisku. Dada ini rasanya dipenuhi kesedihan yang mendalam. Nafasku sesak.Aku hanya bisa menahan isak tangis di kamar yg kukunci rapat, kututupi kepalaku dengan bantal agar ibu tak mendengar tangisanku. Aku memang selalu diam dalam tiap rasa. Karena aku selalu kukuh, bahwa aku ingin cinta yg halal. Tak perlulah aku mengumbar rasa ini kepada orang yg tak berhak merasakannya, karena aku akan menjaganya untuk seorang yg elah ALLAH takdirkan untukku. Yang berani meminangku, dan bekata kepada ayah dan ibu, tentang keseriusannya, dan pastilah dalam waktu yang tepat.Saat hati dan jiwaku siap untuk menerima semuanya itu.Namun aku hanya wanita biasa yg punya perasaan. Walau bagaimanapun aku mengelak bahwa aku telah jatuh hati, toh hati dan otakku tak bisa berohong. Saat kuterima sebua kotak kado berwarna coklat berpitakan kuning gading darinya, dia dengan berani datang ke rumah, dan meminta izin kepada ibu untuk bertemu denganku, lalu kami duduk di kursi depan serambi rumah, ibu seakan mengawasi kami dari jauh seperti sore biasa ia merawat tanamannya.Dia menyatakan bahwa ia jatuh hati kepadaku.Seperti ada petir menyambar, kepalaku tiba2 pening mendengar pernyataannya. Sungguh saat itu aku tak bisa berkata apapun. Tapi dengan tegas aku menjawab. Aku menolaknya.Ia tersenyum hambar, menerima penolakanku dengan wajah tenang. Ia berkata ia mengetahui jika aku pasti akan menolaknya. Aku gadis belia yang baru beberapa hari merasakan duduk di bangku kuliah semester satu di kampus biru kota pelajar ini, aku menjadi harapan dan tumpuan keluarga saat kuliah di universitas kebanggaan Yogya, aku yang diharapkan bisa memberi contoh kepada adik2ku menjadi pribadi yang dapat membahagiakan kedua orang tua dengan prestasi, aku yang merasa masih sedikit ilmu…, sepertinya tidak merasa telah siap dan pantas untuk menerima cinta dari seseorang. Walaupun ia telah berkata bahwa ia berani memberitahu keseriusan dan kegigihannya terhadap ayah dan ibuku.Aku tetap menolaknya.Dalam benakku sungguh ia tak mengerti waktu yang tepat saat menyatakan cinta. Dengan mata yang berkaca-kaca. Aku mengembalikan kotak kado berwarna cokelat berpitakan kuning gading itu. Aku berkata kepadanya dengan suara yang parau.“sepertinya aku tak berhak menerimanya maaf…, aku pikir jika aku menerimanya akan ada hati yang berharap dan saat ini aku tak berhak untuk memberi harapan kepada siapapun, berikanlah ini kepada seseorang yang telah halal bagimu kelak, tanpa aku jelaskan pasti kau sudah memahami apa yang ku maksud, jika engkau memang masih mengharapkan aku maka tunggulah saat yang tepat untuk berkata kepada ayah dan ibu tentang keseriusanmu, saat di mana aku telah siap hati, jiwa dan raga, namun jikalau tidak, masih ada aisyah-aisyah yang lain yang telah siap untuk menerima cinta darimu itu.”Aku melihat sekilas wajah kecewa itu, hatiku saat itu sungguh pilu. Sesak dan begitu berat. Tapi inilah jalan yg terbaik, aku tak mau memberi harapan. Ia menghela nafas panjang. Ia membuka kotak kado itu, kulihat kain berwarna hijau. Ah…jilbab.Lalu ia mengambil sebuah buku tebal dan sepucuk surat, ia menyodorkan kearahku. Dengan nada memohon ia berkata agar aku menerimanya. Lalu ia berkata insyaALLAH perasaannya tidak akan berubah sampai aku menerimanya, lalu ia bergegas pergi dan menghampiri ibuku untuk pamit pulang.Aku memandang buku tebal dan sepucuk surat dengan pilu. Hati ini berkecamuk tak menentu. Kasih, mengapa engkau begitu cepat datang kepadaku? Aku yang hanya selalu diam dalam debarku padamu tak menyangka engkau juga menyimpan rasa kepadaku. Namun kau tak sabar menunggu waktu yang tepat untuk menyatakan rasamu.Sampai mala mini, tangisku tiada henti, memandangi buku tebal dan sepucuk surat itu, hingga membasahi jilbab yang kukenakan.Ya ALLAH aku patah hati. Perih, perdih, menusuk relung2 hatiku. Rasanya sesak tiada henti telah menolak orang yang selama ini mewarnai hatiku. Dan tak ada seorangpun yang mengetahui rasa ini kecuali ALLAH dan ibu. Namun dengan izzah yang kumiliki, aku yakin keputusanku tepat. Walau ia telah menyatakan rasanya lewat tulisan yang tertulis di lembar2 buku tebalnya dan sepucuk surat. Aku tak merasa bahwa aku harus membalas rasaku sekarang, dengan cara yang semu. Aku yakin aku sudah tepat mengambil keputusan, walau tangisanku layaknya seperti lagu kematian.Yakinku, tak ada yang salah di sini.Karena aku mencintainya, aku tak ingin memberinya harapan semu. Karena aku mencintainya, aku siap merasakan patah hati di cinta pertamaku. Hikssss….. aku patah hati ketika aku mencintainya.

Afanina Syahida
15 maret 2010

Kamis, 18 November 2010

Surat Cinta Buat Rasulullah,,,








Padang, 22-04-2010


Asslamu’alaika ya Rasulullah…

Kutulis surat ini dengan penuh rasa rindu yang menggebu dalam dadaku,,
Kutulis untaian ini dengan penuh rasa cinta kepadamu..
Kutulis rasa ini sambilan ku bershalwat kepadamu berharap nantinya bisa bertemu denganmu..

Ya Rasulullah..
Engkau Cahaya yang merekah dalam sanubariku..
Menerangi kegelapan yang ada didalamnya..
Ketenanganmu dalam Sirah Nabawiyah membuatku semakin merinduimu…
Begitu dalam ya Rasul..

Ya habiballlah..
Alangkah sangat bahagia jika mata ini bisa menatap wajahmu..
Tentu kan mengalir air mata ini karena pancaran cahaya mu..
Aku selalu berharap engkau bisa hadir dalam setiap mimpiku..
Sambilan bercerita tentang perjuanganmu..
Tentang pengorbananmu..
Tentang semangatmu..
Tentang cintamu kapada kami, umatmu.

Ya rasulullah…
Jika bukanlah karena perjuanganmu..
Sungguh diri ini tak pernah bisa menikmati indahnya cahaya islam..
Jika bukanlah karena tetesan darahmu..
Sungguh diri ini akan selalu berada dalam kinistaaan..

Ya rusulullah…
Kecintaan mu kapada kami melebihi rasa cintamu kepada dirimu sendiri..
Namun, kami masih belum bisa membandingi itu untuk mencintaimu..

Ya Rasul..
Jikalaulah seandainya di izinkan untuk bercakap denganmu dialam mimpi..
Aku ingin bercerita tentang kekacauan yang sedang terjadi..

Aku ingin bercerita..
Betapa banyak umatmu sekarang melupakanmu..
padahal mereka tau kalau perbuatan itu sangat akan menyakitimu..
betapa banyak pemimpin sekarang mengkhianati amanah yang dititipkan kepadanya..
padahal mereka tau sosok pemimpin yang engkau contohkan telah mereka dalami…

Aku juga ingin bercerita..
Tentang perjuangan sorang anak kecil dan perempuan  dipalestina sana..
Mereka dibunuh..
Mereka dicincang..
Tempat tinggal mereka dibom bardir..
Suami dan ayah mereka disandera dan kemudian mereka di bunuh dengan membabi buta..
Mereka dilarang Shalat dimesjidil  Aqsa..

Ya rasulullah..
Kekejaman itu perbuatan orang-orang yahudi laknatullah..
Mereka ingin menjadikan Al-Aqsa sebagai wilayah mereka..
Mereka telah melampaui batas ya rasul…

Ya rasul..
Jika engkau masih hidup..
Tentulah pemimpin2 islam di semua negera akan meminta pendapatmu..
Dan engkau pasti akan memberi solusi yang sangat begitu Jitu untuk menyelesaikan kasus Palestina..


Tapi ya Rasul,,
Sungguh sekarang tak ada lagi yang bisa memberikan solusi2 yang tepat..
Malahan solusi yang mereka berikan memperparah keadaan…


Ya Rasul..
Aku sangat merinduimu..
Aku sangat ingin hidup bersasamamu..
Selayak sahabat-sahabat yang pernah hidup dengamu dahalunya..
Penuh dengan persaudaraan..
Penuh dengan rasa cinta karena mu dan arena Allah..

Ya Rasulullah…
Izinkan rasa rindu kepadamu selalu bersemayam dalam sanubariku..
Meskipun terkadang aku masih melalaikan sunnah yang engaku titipkan kepada kami..
Dan
Izinkan suatu hari nanti aku bisa mengecup tanganmu..
Meskipun terkadang aku masih lalai dalam kewajibanku..



                                                                                                            Dari:
Umatmu yang masih tertatih
dalam pencapaian puncak keimanan
selalu berharap kau hadir dalam mimpinya
karena rasa rindu dan cinta
kepada Tuhannya dan Rasulnya





Tulisan pertama

Assalamualaikum..
Pertamanya
Dibantu sama kak Aini
syukron Jazakillah kak,,,^^

Silahkan berkunjung ke Blog Saya,,,
di lingkaranperjuangan.blogspot.com


semoga bermanfaat n semoga mengantarkan kita ke jalan ukhwah yang berujung Syurga,,,amin