Aku patah hati di cinta pertamaku Kubawa hatiku yang patah ini ke dalam duniaku yang ceria, yang belum pernah tersentuh rasa cinta antara dua insan.Duniaku yang cerah tiba2 dirundung awan hitam kelam. Malam ini aku menangis pedih, merasakan patah hati dan sedih yang menusuk. Isak tangisku seperti alunan lagu kematian, perih rasanya. Baru pertamakali aku merasakan patah hati, perasaan hampa dan sedih menggelayut dalam otak.Aku menyeka air mataku.Namun dengan begitu cepat pipi ini basah lagi, air mataku mengalir tak henti. Aku tak bisa mengendalikan tangisku. Dada ini rasanya dipenuhi kesedihan yang mendalam. Nafasku sesak.Aku hanya bisa menahan isak tangis di kamar yg kukunci rapat, kututupi kepalaku dengan bantal agar ibu tak mendengar tangisanku. Aku memang selalu diam dalam tiap rasa. Karena aku selalu kukuh, bahwa aku ingin cinta yg halal. Tak perlulah aku mengumbar rasa ini kepada orang yg tak berhak merasakannya, karena aku akan menjaganya untuk seorang yg elah ALLAH takdirkan untukku. Yang berani meminangku, dan bekata kepada ayah dan ibu, tentang keseriusannya, dan pastilah dalam waktu yang tepat.Saat hati dan jiwaku siap untuk menerima semuanya itu.Namun aku hanya wanita biasa yg punya perasaan. Walau bagaimanapun aku mengelak bahwa aku telah jatuh hati, toh hati dan otakku tak bisa berohong. Saat kuterima sebua kotak kado berwarna coklat berpitakan kuning gading darinya, dia dengan berani datang ke rumah, dan meminta izin kepada ibu untuk bertemu denganku, lalu kami duduk di kursi depan serambi rumah, ibu seakan mengawasi kami dari jauh seperti sore biasa ia merawat tanamannya.Dia menyatakan bahwa ia jatuh hati kepadaku.Seperti ada petir menyambar, kepalaku tiba2 pening mendengar pernyataannya. Sungguh saat itu aku tak bisa berkata apapun. Tapi dengan tegas aku menjawab. Aku menolaknya.Ia tersenyum hambar, menerima penolakanku dengan wajah tenang. Ia berkata ia mengetahui jika aku pasti akan menolaknya. Aku gadis belia yang baru beberapa hari merasakan duduk di bangku kuliah semester satu di kampus biru kota pelajar ini, aku menjadi harapan dan tumpuan keluarga saat kuliah di universitas kebanggaan Yogya, aku yang diharapkan bisa memberi contoh kepada adik2ku menjadi pribadi yang dapat membahagiakan kedua orang tua dengan prestasi, aku yang merasa masih sedikit ilmu…, sepertinya tidak merasa telah siap dan pantas untuk menerima cinta dari seseorang. Walaupun ia telah berkata bahwa ia berani memberitahu keseriusan dan kegigihannya terhadap ayah dan ibuku.Aku tetap menolaknya.Dalam benakku sungguh ia tak mengerti waktu yang tepat saat menyatakan cinta. Dengan mata yang berkaca-kaca. Aku mengembalikan kotak kado berwarna cokelat berpitakan kuning gading itu. Aku berkata kepadanya dengan suara yang parau.“sepertinya aku tak berhak menerimanya maaf…, aku pikir jika aku menerimanya akan ada hati yang berharap dan saat ini aku tak berhak untuk memberi harapan kepada siapapun, berikanlah ini kepada seseorang yang telah halal bagimu kelak, tanpa aku jelaskan pasti kau sudah memahami apa yang ku maksud, jika engkau memang masih mengharapkan aku maka tunggulah saat yang tepat untuk berkata kepada ayah dan ibu tentang keseriusanmu, saat di mana aku telah siap hati, jiwa dan raga, namun jikalau tidak, masih ada aisyah-aisyah yang lain yang telah siap untuk menerima cinta darimu itu.”Aku melihat sekilas wajah kecewa itu, hatiku saat itu sungguh pilu. Sesak dan begitu berat. Tapi inilah jalan yg terbaik, aku tak mau memberi harapan. Ia menghela nafas panjang. Ia membuka kotak kado itu, kulihat kain berwarna hijau. Ah…jilbab.Lalu ia mengambil sebuah buku tebal dan sepucuk surat, ia menyodorkan kearahku. Dengan nada memohon ia berkata agar aku menerimanya. Lalu ia berkata insyaALLAH perasaannya tidak akan berubah sampai aku menerimanya, lalu ia bergegas pergi dan menghampiri ibuku untuk pamit pulang.Aku memandang buku tebal dan sepucuk surat dengan pilu. Hati ini berkecamuk tak menentu. Kasih, mengapa engkau begitu cepat datang kepadaku? Aku yang hanya selalu diam dalam debarku padamu tak menyangka engkau juga menyimpan rasa kepadaku. Namun kau tak sabar menunggu waktu yang tepat untuk menyatakan rasamu.Sampai mala mini, tangisku tiada henti, memandangi buku tebal dan sepucuk surat itu, hingga membasahi jilbab yang kukenakan.Ya ALLAH aku patah hati. Perih, perdih, menusuk relung2 hatiku. Rasanya sesak tiada henti telah menolak orang yang selama ini mewarnai hatiku. Dan tak ada seorangpun yang mengetahui rasa ini kecuali ALLAH dan ibu. Namun dengan izzah yang kumiliki, aku yakin keputusanku tepat. Walau ia telah menyatakan rasanya lewat tulisan yang tertulis di lembar2 buku tebalnya dan sepucuk surat. Aku tak merasa bahwa aku harus membalas rasaku sekarang, dengan cara yang semu. Aku yakin aku sudah tepat mengambil keputusan, walau tangisanku layaknya seperti lagu kematian.Yakinku, tak ada yang salah di sini.Karena aku mencintainya, aku tak ingin memberinya harapan semu. Karena aku mencintainya, aku siap merasakan patah hati di cinta pertamaku. Hikssss….. aku patah hati ketika aku mencintainya.
Afanina Syahida
15 maret 2010


1 komentar:
nangiss w mbak
Posting Komentar